I Made Aditiasthana salah satu perawat muda dari Bali yang berhasil menjadi Pemenang SATU Indonesia Awards 2024 awalnya hanya berupaya menyediakan perawatan luka diabetes untuk pasiennya dan membuat kaki palsu dari sampah daur ulang. Namun siapa yang menyangka jika sebuah kepedulian bisa membawa seseorang ke Puncak kemenangan.
Menjadi perawat luka diabetes kalau dipandang sekilas memang menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Bayangkan jika dalam sekali kunjungan dirinya bisa mendapatkan Rp 200.000 – Rp 300.000. Apalagi rata-rata, pasien diabetes itu memang membutuhkan perawatan intensif yang tak sebentar. Karena itulah, ketika Adit harus pulang ke Singaraja, ia menetapkan hati untuk meneruskan profesinya ini di sana. I made Aditiasthana menemukan panggilan hidupnya dengan merawat luka diabetes.
Namun, realistas kehidupan di kampung halaman terkadang memang memutarbalikkan rencananya. Ternyata di Singaraja, pasiennya memiliki kondisi ekonomi yang jauh berbeda dengan di Bali. Sehingga tarif perawatannya turun drastis, dari Rp 300.000 menjadi sekitar Rp 50.000.
Tapi hal itu tidak menjadi halangan yang besar karena memang niat I Made Aditiasthana tulus untuk membantu merawat luka pasiennya.

Solusi Terbaik dari I Made Aditiasthana
Dengan seiringnya waktu berjalan, Aditiasthana mencoba menaikkan tarif. Dalam proses tawar menawar terkadang terasa berat bagi I Made Aditiasthana, karena kondisi orang sakit yang saat kita kunjungi ke rumahnya, kita akan melihat situasi pasien secara menyeluruh. Mulai dari rumahnya seperti apa, keluarganya, pekerjaannya. Belum lagi jika kita sudah dekat dengan pasien, mereka tidak segan-segan bercerita tentang masalahnya, dan akhirnya kita akan menemukan masalah ekonomi mereka.
Momen-momen inilah yang menggugah hati Aditiasthana, dari niat berbisnis, dia memutuskan untuk membuka pintu kliniknya, bagi siapa saja, baik pasien tidak mampu dipersilahkan datang dan membayar seikhlasnya, bahkan tanpa bayaran sama sekali. Aditiathana lulusan dari Universitas Udayana, mempunyai prinsip bahwa menolong itu bukan berarti tanpa hambatan.
Dirinya sadar bahwa keinginan untuk berkontribusi sosial di bidang masyarakat sangatlah besar, Hanya saja, bagaimana jadinta bila kemampuannya sendiri belum bisa maksimal, padahal biaya operasi harus tetap berjalan. Akhirnya Aditriathana dan istri menemukan ide dengan membuat dan meracik sendiri obat-obatan perawatan dan pencucian luka diabetes melalui herbal, dengan demikian, satu solusi aditiathana dapatkan kembali.
Namun tak hanya itu I Made Aditiasthana ternyata juga menyediakan solusi dari luka diabetes pasiennya membuat kaki palsu dari sampah daur ulang,
Suatu hari Aditiasthana dapat pasien serorang kontraktor yang dirawatnya hingga sembuh. Sayangnya, ketika lukanya telah kering, kakinya sudah tidak berfungsi dengan normal, kemudian Aditiasthana berpikir, apakah layanannya hanya bisa berkenti di sini ?
Pada malam berikutnya, Aditiathana punya inisiatif untuk melakukan galang dana, dimana dana tersebut untuk membuat penyangga kaki bagi pasiennya, walaupun tidak mudah, tetapi upaya itu membuahkan hasil.

“Luka bisa sembuh, tapi kehilangan harapan adalah penyakit yang lebih berbahaya,”
Kalimat itu menjadi dasar dari seluruh langkah hidupnya – sebuah filosofi sederhana namun dalam, yang membentuk perjalanan pengabdiannya di bidang kesehatan.
Akhirnya di tahun 2019 berdirilah sebuah Yayasan Kaki Kita Sukasada (YKKS) di Buleleng. Di beberapa bulan kemudian, Aditisthana bertemu lagi dengan pasien terdahulu yang sudah dalam kondisi bugar dan berseri, dengan ucapan terima kasih dan jabat tangan sang pasien membuat hati Aditiasthana tergugah. Nuraninya mulai berbicara, kepalanya berpikir bahwa kegiatan ini harus terus dilakukan.
Dari sinilah perjalanan YKKS semakin luas dengan 3 program yaitu
- Merawat luka diabetes
- Membantu pengadaan kaki palsu bagi mereka yang diamputasi
- Pemberdayaan disabilitas.
Pada tahun 2024 Yayasan Kaki Kita Sukasada (YKKS) telah berkembang pesat, dimana yayasan ini membantu kurang lebih 24 pasien yang mendapatkan kaki palsu sejak tahun 2019, khususnya di wilayah Buleleng.
YKKS bukan sekadar klinik atau pusat rehabilitasi. Ini adalah ruang kolaborasi antara kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Aditiasthana dan timnya menginisiasi program pembuatan kaki palsu dari bahan daur ulang, terutama botol plastik bekas. Dari sampah yang sering diabaikan, mereka menciptakan sesuatu yang memberi kehidupan baru bagi orang lain.
Gerakan ini kemudian dikenal dengan nama “Bring Back Our Bottles” – sebuah kampanye sosial yang mengajak masyarakat mengumpulkan botol plastik bekas untuk dijadikan bahan dasar kaki palsu. Proyek ini bukan hanya memberikan solusi ramah lingkungan, tapi juga menjadi simbol transformasi – dari limbah menjadi manfaat, dari kehilangan menjadi harapan.
SATU Indonesia Awards
Dedikasi tanpa pamrih ini akhirnya mendapat pengakuan besar. I Made Aditiasthana terpilih sebagai penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards dari PT Astra International Tbk, baik di tingkat Provinsi Bali maupun tingkat Nasional. Penghargaan ini diberikan kepada anak muda Indonesia yang memberikan kontribusi nyata dalam lima bidang utama: kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi.
Dan dia telah dianugerahkan SATU Indonesia Awards tahun 2024, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada individu-individu inspiratif yang memberikan dampak positif bagi bangsa. Penghargaan ini bukan sekedar piala atau sertifikat, melainkan validasi atas perjuangan dan pengabdiannya yang tulus.
#APA2025-PLM
